6 Kiat Sukses Belajar Bahasa Arab

Nasihat dan kiat ini merupakan pengalaman al-Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni & nasihat dari Ustadz Abu Izzi hafizhahumullah

1. Menolong : نَصَرَ – يَنْصُرُ

Niat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam agama Islam. Niat ialah dengan minta tolong kepada Allah semata. Sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا اﻷَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesunggunya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan”. (HR. Bukhori No.1 dan Muslim No.1907)

Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niatnya didalam mempelajari Bahasa Arab, yaitu hanya karena Allah semata. Karena Allah akan senantiasa menolong hambaNya yang ikhlas dalam beramal shalih.

2. Memukul : ضَرَبَ – يَضْرِبُ

Setiap orang yang belajar Bahasa Arab wajib memiliki kesabaran tinggi, karena bukti seseorang itu ikhlas maka siap untuk dipukul (sabar), siap menghadapi kesusahan dalam rangka menuntut ilmu. Sebagaimana perkataan Abdurrahman bin Abu Hatim rahimahullah :

لَا يُسْتَطَاعُ العِلْمُ بِرَاحَةِ الجَسَدِ

“ilmu agama tidaklah bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai”

3. Membuka : فَتَحَ – يَفْتَحُ

Setelah dia ikhlas dan sabar dalam menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya didalam memahami kaidah-kaidah ilmu, Allah bukakan baginya pintu-pintu ilmu yang sangat banyak yang sebelumnya tertutup baginya (tidak bisa difahami).

Sebagai bukti akan pentingnya ikhlas dan sabar didalam menuntut ilmu berikut terdapat sebuah kisah dari seorang ulama Ahli Bahasa dari Kuffah yang bernama Al-Kisa’i rahimahullah dikarenakan kesabarannya Allah memberikan kemuliaan kepadanya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“Guru kami yang sangat sabar Abdurrahman bin As-Sa’di rahimahullah pernah menuturkan kepada kami kisah tentang Al-Kisa’i -imam penduduk kufah dalam bidang Nahwu bahwa dahulu beliau belajar ilmu Nahwu tetapi tidak kunjung berhasil. Sampai suatu ketika beliau menjumpai seekor semut yang membawa makanannya sembari menaiki sebuah dinding. Setiap kali naik dia pun terjatuh. Meskipun demikian, semut itu terus bersabar dan berjuang hingga akhirnya berhasil lolos dari rintangan ini dan mampu naik ke atas dinding itu.

Kemudian Al-Kisa’i pun berkata, “semut ini bersabar dan terus berjuang hingga mencapai tujuannya“.

Maka beliau pun bersabar dan terus berjuang -dalam menimba ilmu- hingga akhirnya beliau berhasil menjadi seorang imam (ulama) panutan dalam bidang Nahwu (Kaidah Bahasa Arab)”.

4. Menghitung : حَسِبَ – يَحْسِبُ

Setiap orang yang telah mampu membaca kitab, maka wajib baginya untuk mulai menghitung-hitung uangnya, berapa banyak harta yang harus dikeluarkan untuk membeli kitab para ulama. Karena begitu lah yang dicontohkan oleh para ulama salaf, mereka menghabiskan banyak hartanya untuk rihlah mencari ilmu dan membeli kitab.

5. Mengetahui / Berilmu : عَلِمَ – يَعْلَمُ

Seseorang akan berilmu apabila telah terpenuhi syarat-syarat sebelumnya dan mampu untuk melewatinya. Karena ilmu tidak akan mungkin diraih tanpa adanya keikhlasan, kesabaran yang luar biasa, pertolongan dari Allah dan pengorbanan harta. Dan hal ini akan meninggikan derajatnya sebagaimana firman Allah

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ امَنُوا مِنْكُمْ وَالّذِيْنَ أُوْتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan juga orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat” (QS. Al Mujadilah ayat 11).

6. Baik : حَسُنَ – يَحْسُنُ

Setelah berilmu maka manusia akan menjadi orang baik. Karena kebaikan diri seseorang merupakan buah daripada ilmu yang telah diraihnya.

Sebagaimana pohon yang tumbuh di atas tanah yang subur akarnya menghujam ke dalam tanah, batangnya besar dan menjulang ke atas, daunnya rindang, maka dengan izin Allah buahnya pun akan lebat dan manis rasanya, begitu juga dengan ilmu yang bermanfaat yang telah di raih oleh seorang hamba.

Dan puncak daripada kebaikan seseorang adalah dengan diturunkan rahmat kepadanya, yang dengannya Allah memasukkan ke dalam surgaNya. aamiinn.

*Diambil dari buku Ringkasan Kaidah-Kaidah Bahasa Arab karya Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni

Leave a Reply